Sebuah kegaduhan digital meletus di Kalimantan Barat. Bukan karena penemuan alien atau politisi jujur, melainkan karena sederet lubang di ruas Simpang Ampar-Balai Bekuak Laur. Narasi yang telanjur viral itu ringkas dan kejam: proyek baru digarap, jalan sudah rusak.
Faktanya, narasi itu barangkali lebih bolong ketimbang aspalnya sendiri. Melalui penelusuran mendalam, terungkap bahwa kawah-kawah kecil yang ramai diperbincangkan itu sama sekali bukan bagian dari rekayasa konstruksi tahun ini.
“Itu lobang-lobang baru yang masuk berita, tidak masuk dalam rekayasa saat awal tahun kemarin,” ujar seorang sumber enggan disebut nama, menyiratkan ada misteri yang lebih absurd dari sekadar kualitas cor beton.
Lantas, jika bukan karena pengerjaan buruk, mungkinkah lubang itu muncul secara gaib? Atau jangan-jangan, ini adalah bentuk baru perlawanan tanah terhadap pembangunan? Dunia maya seketika menjadi panggung spekulasi liar, dari teori sabotase hingga dugaan bahwa aspal di sana memang punya hobi bunuh diri.
Secara resmi, proses pengerjaan masih bergulir. Klaim bahwa infrastruktur langsung rontok begitu diresmikan adalah sebuah kesesatan logika. “Yang jelas prosesnya lagi berjalan. Bukan baru dikerjakan sudah rusak,” tegas sumber yang sama, menepis tuduhan tanpa perlu berdebat kusir.
Maka, tersajilah drama satire sempurna tentang era banjir informasi. Kecepatan menggulirkan jempol seringkali lebih cepat dari akal sehat. Judul adalah segalanya, konteks hanyalah ornamen yang merepotkan. Publik lebih gemar merayakan kemarahan instan daripada menyusuri fakta yang seringkali membosankan.
Peristiwa ini adalah cermin retak literasi digital. Kita diajak menertawakan absurditas betapa mudahnya sebuah foto lubang menggiring opini publik dan menyulut vonis bersalah, bahkan sebelum para teknisi sempat menyesap kopi hangat mereka di pagi hari.
Di tengah gemuruh informasi yang saling sikut, kecerdasan sejati hadir bukan dari kecepatan membagikan tautan, melainkan jeda untuk meragukan.
Berikut tips agar selamat dari jebakan viral:
1. Uji Nyali Sumber: Jangan percaya akun misterius dengan foto profil kartun.
2. Telusuri Utuh Narasi: Judul adalah umpan, isi adalah hakikatnya.
3. Asah Empati Kritis: Jangan biarkan emosi digadaikan oleh manipulasi data.
Dengan menyaring sebelum menyebar, bukan sekadar menghindari hoaks. Maka, sedang menyelamatkan akal sehat dari jurang kebodohan massal yang dirancang dengan begitu memikat.
Korwil Kalbar Rustan.,”
