Kehidupan Sehari-Hari Masyarakat Di Perbatasan Entikong,Bukan Hal Yang Mudah
Opini Publik
Endin (wa Saung)
Kehidupan sehari-hari masyarakat di perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, sangat erat kaitannya dengan aktivitas lintas batas antara Indonesia dan Malaysia (Serawak). Aktivitas utama mereka dalam mengais rezeki didominasi oleh perdagangan, jasa, dan sektor informal yang tumbuh di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong.
Hidup di perbatasan negara memang bukan hal yang mudah. Ada berbagai tantangan unik yang dihadapi oleh masyarakat di daerah tersebut, yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan keamanan.
Kehidupan di daerah perbatasan negara memang menghadapi tantangan unik dan kompleks. Ini bukan hal yang mudah, karena sering kali melibatkan kombinasi dari beberapa faktor.
Peluang kerja formal mungkin langka, mendorong ketergantungan pada sektor informal atau potensi kerentanan terhadap kegiatan ekonomi ilegal.
Keamanan menjadi perhatian utama, dengan potensi risiko terkait penyelundupan, perdagangan manusia, atau sengketa perbatasan.
Masyarakat lokal sering berinteraksi dengan komunitas dari negara tetangga, menciptakan dinamika budaya dan bahasa yang kompleks.
Pemerintah Indonesia, melalui berbagai program pembangunan perbatasan, berupaya mengatasi tantangan ini untuk meningkatkan taraf hidup dan memperkuat kedaulatan di wilayah-wilayah tersebut.
Keberadaan PLBN yang megah menarik banyak pelintas dan wisatawan, membuka peluang bagi UMKM lokal. Banyak warga membuka warung makan, kios kelontong, dan toko suvenir di sekitar kawasan PLBN, meraup rezeki dari keramaian di area perbatasan.
: Aktivitas pergerakan barang dan orang membutuhkan jasa transportasi lokal. Warga mengais rezeki sebagai pengemudi ojek, sopir angkutan umum, atau terlibat dalam jasa pengiriman barang (ekspedisi) melintasi perbatasan, terutama dengan adanya Terminal Barang Internasional (TBI).
Beberapa warga juga bekerja serabutan atau menawarkan jasa lain seperti porter (pengangkut barang) bagi para pelintas batas, asalkan tidak terhalang oleh kebijakan baru yang berlaku di kawasan inti PLBN.
Beberapa warga juga bekerja serabutan atau menawarkan jasa lain seperti porter (pengangkut barang) bagi para pelintas batas, asalkan tidak terhalang oleh kebijakan baru yang berlaku di kawasan inti PLBN.
Secara sosial, masyarakat di Entikong memiliki hubungan kekeluargaan yang erat antara warga di sisi perbatasan Indonesia dan Malaysia, meskipun berbeda kewarganegaraan. Hal ini menciptakan suasana yang harmonis dan kooperatif dalam aktivitas sehari-hari.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan melalui pengembangan ekonomi kreatif dan pembangunan infrastruktur, untuk mengurangi ketergantungan pada ekonomi lintas batas informal dan mengintegrasikan ekonomi lokal ke dalam perekonomian nasional secara lebih formal.
PMBcom.kalbar.”








